Tentang Kami
UNIK.EDU Plus adalah lembaga konsultan psikologi yang bergerak di bidang pendidikan yang berdiri pada tahun 2007. Integralitas pelayanan menjadi fokus kami, dimana tidak hanya individu dalam konteks anak didik saja. Melainkan juga para orang tua dan guru sebagai elemen penggerak dan sangat penting dalam kesuksesan sebuah pendidikan. Sehingga kami dapat memberikan pelayanan yang profesional, komprehensif dan akurat kepada pengguna jasa layanan kami. Misi utama Lembaga konsultan ini adalah mengoptimalkan aspek kognitif, afektif dan motorik anak usia dini, pelajar, mahasiswa, guru dan orang dewasa melalui pelayanan assesmen psikologik yang berorientasi pada ketepatan diagnostik dan penanganan, peningkatan keterampilan melalui kursus dan pelatihan serta memberikan pelayanan konseling psikologik.
BERANDA
Jumat, 25 April 2014
Senin, 30 Januari 2012
TIPS PSIKOTERAPI ANAK AUTISMA UNTUK INDERA PENGLIHATAN
Oleh : Ulfa Mahmudah,M.Psi.
(Psikolog Pada Konsultan Psikologi Pendidikan UNIK.EDU PLUS)
Indera penglihatan merupakan salah satu indera yang fungsinya terganggu akibat seorang anak menyandang sindrom autisma. Bentuk ganggunan yang sering ditemukan pada fungsi indera penglihat anak autisma adalah kesulitan kontak mata, keterbatasan fokus mata terhadap benda-benda tertentu.
Tidak adanya kontak mata dari anak autisma membuatnya sulit memfokuskan diri dalam mengamati benda sehingga timbul rasa depresi jika ia dihadapkan pada objek-objek yang masih asing. Itulah alasan mengapa anak autisma sulit melakukan kontak mata atau memfokuskan pandangannya terhadap suatu objek, bahkan sulit pula membandingkan benda yang sedikit memiliki persamaan.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua atau guru untuk menstimulasi indera penglihatan anak autisma :
1. Bimbing anak untuk menggembukan kedua pipinya, lalu membelalakkan matanya secara berulang-ulang.
2. Ajak anak untuk bermain cilukba atau bermain dengan cara membuka dan menutup kedua mata dengan telapak tangan secara berulang-ulang.
3. Bimbing anak untuk merangkak melewati terowongan tiruan yang dindingnya memiliki beragam warna secara berulang-ulang.
4. Ajak anak untuk membuat gelembung udara dengan berbagai ukuran dari air sabun.
5. Ajak dan temani anak bermain petak umpet.
6. Ajarkan dan praktikkan kepada anak tentang penggunaan sun glasses atau kacamata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari.
7. Ajak dan temani anak bercermin atau melihat muka anak dan dirinya sendiri dalam cermin untuk beberapa saat sesuai mood anak. Untuk beberapa lama, berikan kesempatan padanya untuk melakukan apa saja yang ia mau di depan cermin.
8. Ajak dan temani anak bermain gasing, yaitu mainan kayu berpasak paku yang dapat diputarkan dengan bantuan seutas tali.
9. Ajak anak untuk mengamati proses perputaran bola beraneka warna. Latih ia untuk mengekspresikan berbagai bahasa tubuh dan raut wajah.
10.Ajarkan anak tentang penggunaan lup atau kaca pembesar untuk melihat serangga dan objek kecil lainnya.
11. Nyalakan sebuah lampu senter lalu arahkan ke salah satu benda yang ada di dalam rumah lalu arahkan ke salah satu benda yang ada di dalam rumah lalu bujuk anak untuk terus-menerus memandangi benda atau objek yang terkena pancaran cahaya lampu senter tersebut.
12. Bawakan sebuah benda ke hadapan anak, lalu perlihatkan kepadanya. Bimbing dan ajarkan ia untuk menyentuh dan meraba sudut-sudut serta tepi-tepi benda tersebut sambil menjelaskan mengenai perbedaan antara sudut dan tepi sebuah benda.
13. Ajarkan dan perlihatkan kepada anak tentang perbedaan intensitas cahaya dalam ruangan yang gelap dan ruangan yang terang serta perbedaan intensitas cahaya pada siang dan malam hari. Lakukan dengan penuh kesabaran agar anak tidak merasa jenuh.
14.Ambil sebuah lampu senter kecil lalu nyalakan dan gerak-gerakkan. Kemudian mintalah kepada anak untuk memperhatikan arah datang dan perginya cahaya yang bergerak-gerak tadi ketika mengenai sebuah benda. Usahakan agar anak dapat memusatkan perhatiannya.
15. Ajak anak untuk masuk ke dalam kamar. Lau padaman lampu dan nyalakan kembali setelah beberapa lama. Lakukan sekitar 4-5 menit dan usahakan agar anak tidak merasa takut lalu berteriak histeris atau bertindak agresif.
16. Siapkan lampu warna-warni di atas permukaan sebuah papan dan buat aliran listriknya paralel. Lalu peragakan kerja lampu tersebut kepada anak dengan cara mematikan dan menyalakan lampu-lampu tersebut secara bersamaan kemudian nyalakan dan matikan lampu-lampu tersebut secara bergantian.
Sumber : Wijayakusuma, Prof. H M Hembing. 2004. Psikoterapi untuk anak autisma. Jakarta, Pustaka Populer
MENGENAL ANAK AUTISMA
Oleh : Ulfa Mahmudah, M.Psi
(Psikolog Pada Konsultan Psikologi Pendidikan UNIK.EDU PLUS)
Pengertian Autisma
Autisma, sebuah sindrom gangguan perkembangan sistem saraf pusat yang ditemukan pada sejumlah anak ketika masa kanak-kanak hingga masa sesudahnya. Sindrom tersebut membuat anak-anak yang menyandangnya tidak mampu menjalin hubungan sosial secara normal bahkan tidak mampu untuk menjalin komunikasi dua arah.
Varian simptom yang dimiliki setiap anak dengan sindrom autisma berbeda-beda. Ada varian simptom yang ringan dan ada juga yang berat. Secara umum dapat dispesifikan ke dalam tiga hal yang mencakup kondisi mental, kemampuan berbahasa serta usia anak.
Sebagai sindrom, autisma dapat disandang oleh seluruh anak dari berbagai tingkat sosial dan kultur. Hasil survei yang diambil dari beberapa negara menunjukkan bahwa 2-4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang autisma dengan rasio perbandingan 3:1 untuk anak laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, anak laki-laki lebih rentan menyandang sindrom autisma dibandingkan anak perempuan.
Simptom perilaku autisma
Simptom gangguan perilaku yang diperlihatkan oleh sebagian besar anak autisma berupa rasa gelisah, menyakiti diri sendiri, hiperaktif, hingga kesulitan dalam mengendalikan keinginan buang air. Adapun gangguan umum yang kerap dihadapi orang tua adalah reaksi emosional yang sangat buru. Dalam banyak hal, reaksi emosional ini berdampak pada tampilan perilaku anak autisma yang cenderung merusak terhadap benda-benda di sekitarnya. Sehingga sebagian orang tua beranggapan bahwa anak autisma identik dengan perilaku hiperaktif, agresif, stimulasi dini dan tantrum.
Simptom autisma pada setiap anak dapat berbeda-beda. Simptom paling umum mencakup perilaku agresif, hiperaktif, tantrum, gangguan pencernaan, gangguan detoksifikasi, gangguan imunitas, gangguan neurobiologis dan neurofisiologis. Variatifnya gejala autisma antar anak tersebut menjadikan setiap anak perlu diagnosa khusus yang ditunjang oleh pemeriksaan laboratorium.
Terapi autisma
Beberapa implementasi penyembuhan tersebut bukan hanya bersifat psikis, tetapi juga fisik, mental, emosional, hingga fisiologis. Terapi penyembuhan yang diterapkan pun dilakukan dengna berbagai varian teknik, diantaranya teknik belajar dan bermain yang dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal. Inti dari sejumlah terapi tersebut dimaksudkan untuk mengeleminir berbagai simptom yang diperlihatkan anak autisma yang disesuaikan dengan tingkatan sindrom yang disandang anak. Yang terpenting, terapi yang diberikan kepada anak autisma hendaknya tetap melibatkan peran serta orang tua secara aktif. Tujuannya agar setiap orang tua merasa memiliki andil atas kemajuan yang dicapai oleh anak autisma dalam setiap fase terapi. Dengan demikian, akan terbentuk ikatan emosional yang lebih kuat antara orang tua dengan anak autismanya sehingga akan mendukung perkembangan emosional dan mental anak menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sumber : Wijayakusuma, Prof. H M Hembing. 2004. Psikoterapi untuk anak autisma. Jakarta, Pustaka Populer
Sabtu, 28 Januari 2012
Bagaimana kita Harus Belajar
Oleh Ani Khairani, M.Psi, Psikolog
Desember 2011
Belajar adalah bagian dari proses kehidupan manusia. Al Alaq 1-5 adalah ayat pertama yang turun kepada Rosulullah Saw. Ayat ini berisi perintah membaca, menulis dan juga belajar. Allah Swt telah memberikan manusia sifat fitrah dalam dirinya untuk bisa belajar dan menggapai berbagai macam imu pengetahuan dan keterampilan hingga dapat menambah kemampuannya untuk mengemban amanat kehidupan di muka bumi ini, Dengan belajar pula manusia dapat meningkatkan kemampuan dan kepandaiannya untuk mencapai derajat manusia sempurna yang menjadi tujuan hidupnya.
Hal yang menjadi penting disini adalah hasil dari belajarnya seorang manusia untuk mencapai tujuannya. Muncul dalam perilaku dan perbuatan yang mencerminkan ilmu pengetahuan dan pemahamannya akan sesuatu. Hal ini yang menjadi bekal dan arahan untuk menjalankan kehidupan dan amanahnya sebagai khalifah di bumi ini. Dengan ilmu pengetahuan ini pun manusia diangkat Allah dengan derajat ketinggiannya. Sesungguhnya Allah meningkatkan derajat orang-orang yang mau belajar.
Banyak hal yang dapat menghambat belajar, sehingga terkesan belajar adalah sesuatu yang berat dan belajar adalah hal yang tidak menyenangkan, atau bahkan merasa tertekan ketika harus belajar. Bukankah seharusnya belajar adalah sesuatu yang menyenangkan? Bagaimana agar belajar menjadi suatu kebutuhan dan merasa nyaman dengan belajar?Ketika dihadapkan dengan pertanyaan ini, akan timbul beberapa ide, yang sebenarnya alasan mengapa kita enggan belajar. Hambatan belajar yang mengakibatkan belajar adalah sesuatu yang berat boleh jadi berasal dari diri si pembelajar, hambatan ini kemudian disebut sebagai hambatan internal. Dan boleh jadi, hambatan belajar yang mengakibatkan belajar adalah sesuatu yang berat berasal dari lingkungan tempat si pembelajar atau dari luar diri si pembelajar, hal ini kemudian disebut sebagai hambatan eksternal.
Proses belajar bisa berjalan sempurna dengan menerapkan metode belajar yang tepat. Setidaknya, kita dapat mempelajari empat metode belajar yang diisyaratkan dalam riwayat hadist Rosulullah Saw. Keempat metode belajar yang dimaksud adalah metode: Modelling, metode trial and error, metode conditioning dan metode berpikir
Proses belajar akan berjalan efektif dan optimal jika beberapa prinsipnya diterapkan dengan benar. Permasalahan yang terjadi bahwa tidak jarang proses pembelajaran berjalan lambat, bahkan tidak mencapai hasil yang baik. Hal ini dapat disesbabkan oleh tidak diterapkannya prinsip-prinsip belajar yang baik. Sejauh ini para psikolog sangat perhatian dan detail mengkaji masalah aktivitas belajar melalui metode eksperimen dan mereka pun berhasil menemukan batasan-batasan yang tegas untuk prinsip-prinsip belajar. Namun jauh sebelum para psikolog membahasnya, semenjak 14 abad yang lalu AlQuranul Karim seringkali mempraktekan prinsip-prinsip ini untuk meluruskan kembali perilaku manusia, mendidik jiwa dan membangun kepribadian mereka. Bahkan Rosulullah Saw, telah mengaplikasikannya dalam mendidik jiwa, meluruskan perilaku dan membangun kepribadian para sahabatnya. Beliau telah menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam menyiarkan dakwah islam kepada ummat manusia. Prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut: motivasi, reinforcement positif, Repetisi, Bertahap, Konsentrasi, Partisipasi Aktif dan Praktek
Para pendidik muslim generasi awal telah mempraktekan arahan yang diberikan oleh nabi. Mereka berwasiat agar pujian dan pemberian motivasi senantiasa diterapkan dalam proses mendidik. Mereka melarang hukuman yang berbentuk fisik, kalaupun harus memberian hukuman dalam kondisi-kondisi tertentu dilakukan tidak sampai mengakibatkan trauma pada perasaan.
Repetisi sangat penting untuk menanamkan kebiasaan. Ketika sebuah pengetahuan atau keterampilan diulang berkali-kali maka akan bertambah mahir dan terbiasa. Ia akan mampu menguasai pengetahuan atau secara reflek mendemonstrasikan kemahirannya.
Nabi Saw memberikan ajaran islam yang begitu ringan kepada para pemula. Beliau hanya memberikan kewajiban pokok dalam Islam agar keimanan mereka kuat terlebih dahulu di dalam hati. Jika keimanan telah tertanam kuat dalam hati mereka, maka dengan sendirinya mereka akan memiliki keinginan kuat untuk melakukan amalan-amalan sunnah lainnya.
Tugas para pendidik sebelum melakukan pengajaran adalah berupaya untuk membangkitkan konsentrasi. Cara yang telah Rosulullah contohkan dalam membangkitkan konsntrasi adalah sebagai berikut:
a. Memberikan contoh fakta yang bermakna
b. Mengajukan pertanyaan
c. Menggunakan perumpamaan
d. Menggunakan gambar peraga
Islam sangat memperhatikan metode partisipasi aktif. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana Al Quran memerintahkan manusia untuk belajar akhlaq yang baik dan perilaku terpuji dengan cara melatih mereka untuk menunaikan semua ibadah yang diwajibkan kepada mereka. Islam pun menyerukan kaum muslimin untuk selalu beramal sholeh. Sesungguhnya keimanan yang sesungguhnya tampak dari perilaku seseorang juga amalnya
Belajar akan menampakkan hasilnya jika kita menerapkan metode dan melaksanakan prinsip-prinsip belajar yang benar. Hasil belajar yang berhasil akan tampak pada internalisasi pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan yang kelak akan secara spontan keluar dalam prilaku sehari-hari. Nilai-nilai dan pemahaman yang baik ini akan tampak dalam karakter dan akhlaq yang sangat sempurna karena dilandasi pada keimanan kepada Allah swt. Sehingga tujuan hidup manusia untuk menjadi khalifah dibumi ini akan terealisasi.
Pola pemikiran ini dapat dijadikan dasar dalam merumuskan sebuah 'kurikulum' untuk orangtua di rumah. Pendidikan di rumah sangat penting. Anak adalah merupakan amanah ”berat” yang dititipkan Allah kepada orang tuanya, terlebih lagi di tengah-tengah merosotnya nilai-nilai etika, moral dan gencarnya serangan permisifisme (budaya serba oleh) melalui media elektronik, tanggungjawab orang tua menjadi kian berat anak memang anugerah, bahkan di dalam al-Qur’an dikatakan sebagai persiapan hidup, ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia...” (QS. Al-Kahfi : 46)
Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca al-Qur’an (HR. Ath-Thabrani). Tiga hal yang diperintahkan Nabi untuk diajarkan kepada anak-anak kita terkait dengan puncak dan asas berbagai kecerdasan pada anak kita. Bisa jadi sebagian orang menyebut kecerdasan ini dengan kecerdasan spritual atau kecerdasan relijius. Karena memperkenalkan pribadi Nabi Muhammad saw sejak dini akan menjadi pondasi penting pembangunan akhlak Islam pada anak-anak. Jadikanlah sosok Nabi itu hidup dalam benak mereka dan sangat mereka cintai. Tak ada pribadi yang lebih indah budi pekertinya
daripada Nabi Muhammad. Dan engkau (Muhammad) sunggu berakhklaq mulia
(QS; al Kalam:4). Dengan menghadirkan pribadi Nabi dalam keseharian anak-anak, mereka akan lebih mudah melaksanakan akhlaq Isalami, sebab ada sosok yang menjadi panutan dihadapan mereka. Menghadirkan sosok Nabi misalnya dapat dilakukan dengan mengisahkan betapa beliau pribadi yang penyayang kepada sesama manusia, betapa beliau amat penyantun, betapa beliau pemberani dalam membela kebenaran, betapa beliau taat kepada Allah dengan tekun beribadah dll. Teladani keluarga Nabi, Keluarga Nabi adalah istri dan anak-anak beliau dan juga menantu
beliau yang shalih. Mereka pulalah orang-orang yang paling mencintai Nabi dan berusaha melanjutkan perjuangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam. Kisah tentang mereka pun akan menjadi inspirasi sangat berharga bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi. Mungkin kita mesti banyak menggali bagaimana Nabi ikut serta mendidik Hasan dan Husein, cucu beliau, yang bahkan kerap beliau anggap sebagai anak-anaknya sendiri.
daripada Nabi Muhammad. Dan engkau (Muhammad) sunggu berakhklaq mulia
(QS; al Kalam:4). Dengan menghadirkan pribadi Nabi dalam keseharian anak-anak, mereka akan lebih mudah melaksanakan akhlaq Isalami, sebab ada sosok yang menjadi panutan dihadapan mereka. Menghadirkan sosok Nabi misalnya dapat dilakukan dengan mengisahkan betapa beliau pribadi yang penyayang kepada sesama manusia, betapa beliau amat penyantun, betapa beliau pemberani dalam membela kebenaran, betapa beliau taat kepada Allah dengan tekun beribadah dll. Teladani keluarga Nabi, Keluarga Nabi adalah istri dan anak-anak beliau dan juga menantu
beliau yang shalih. Mereka pulalah orang-orang yang paling mencintai Nabi dan berusaha melanjutkan perjuangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam. Kisah tentang mereka pun akan menjadi inspirasi sangat berharga bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi. Mungkin kita mesti banyak menggali bagaimana Nabi ikut serta mendidik Hasan dan Husein, cucu beliau, yang bahkan kerap beliau anggap sebagai anak-anaknya sendiri.
Sabtu, 17 Desember 2011
KEMI: KEMI: CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT
Oleh : Ani Khairani
Novel KEMI, sebuah novel perdana Dr. Adian Husaini, adalah novel yang berbobot secara isi, penuh ilmu dalam kontennya. Kekuatan novel ini justeru pada kandungannya yang disajikan dalam bentuk diskusi, tepat sekali dan berguna untuk menjadi bahan menjawab pandangan-pandangan orang-orang yang sudah teracuni pikirannya dengan pluralisme. Tapi jangan harap mendapatkan deskripsi lokasi dan tempat serta perasaan setajam seperti Novel ayat-ayat cinta atau sejenisnya. Penggambaran perasaan dan lokasi-lokasi tempat sederhana saja.
Ketika membaca per-tiap halamannya, tampak sedikit banyak bermunculanlah wajah-wajah sahabat dan teman yang kondisinya sedikit banyak mirip dengan KEMI, walau belum berakhir dan belum sampai masuk RS jiwa tentunya. Terkadang, dalam meluruskan pola pikir mereka pada dunia nyata ini sedikit bingung mulai dari mana, untung saja tertolong oleh tokoh Rahmat yang memang memerankan tokoh yang meluruskan pandangan yang menyimpang melalui dialog. Gambaran karakter Rahmat yang penuh percaya diri, lurus dalam Aqidah, mau belajar, dan pengambil resiko. Kalau dilihat dari advercity Quotient, bisa dikatagorikan di karakter Climbers, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan walau sekecil apapun untuk maju. Semakin tinggi ia naik, maka semakin luas dan indah pula ia melihat pemandangan. Mereka sangat menikmati tantangan dan kesulitan yang dihadapi dalam menyelesaikan tugas-tugasya. Semakin berat dan sulit tantangan yang dihadapi mereka semakin tertarik.
Beberapa teman dan sahabat tersebut saya beri rekomendasi untuk membaca buku KEMI ini. Namun, sedikit banyak saya curiga, jangankan membaca, melihat saja mungkin mereka sudah alergi. Terkotakkan dengan pola pikir mereka, yang mungkin pun secara tak sengaja, terbawa dan terjerumus dengan idealismenya sendiri yang tanpa dikuatkan kembali ke basic pemahaman agamanya.
Kalau di perhatikan yang membuat saya tertarik adalah bagaimana karakter KEMI dan orang-orang seperti KEMI ini sebetulnya. Dari analisis asal-asalan saya, dengan basic ilmu psikologi yang saya dapat juga di kampus sekular, tampak bahwa karakter yang muncul adalah utamanya adalah inferioritas. Namun, inferioritas ini didukung dengan keingintahuan yang tinggi, keraguan akan ilmu yang dimiliki, dan vokal dalam berbicara, membuat karakter yang tampil justeru kebalikannya, merasa superior, percaya diri dan logis rasional, tampak seakan tampil sebagai orang yang modern secara pemikiran. Jadi sebetulnya, karakter yang muncul dari tokoh-tokoh pluralisme yang mengusung sekularisme dan liberalisme ini justeru tampak seperti karakternya peradaban barat yang berdiri pada landasan dan dasar yang rapuh (maaf jadi menyambung dengan resume buku satu lagi: wajah peradaban barat). Inferioritas yang saya bicarakan disini seperti contohnya, merasa tidak mampu; bisa dalam hal finansial, berasal dari lingkungan yang jauh berbeda dengan kondisi metropolitan sehingga mudah silau dan mudah berkeinginan, keraguan akan kemampuan dan pola pikir diri sendiri, kurang bisa menyaring ilmu hasil dari keingintahuannya yang begitu besar, mudah terpesona dengan sesuatu yang baru. Sayangnya, diakhiri dengan kerusakan otak fatal, yang tidak dapat mengembalikan kesadarannya akan dunia. Sering terbayang berbagai perkiraan di benak saya bagaimana ketentuan akhir Allah Swt ketika penghisab-an nanti terhadap KEMI ini, atau orang-orang sepertinya.
Namun, bagaimana karakter tokoh-tokoh cendekiawan seperti para Profesor Abdul Malikan dan Kyai Dulpikir yang ada di kampus damai sentosa. Kalau saya tidak salah menilai, motif mereka lebih karena ingin memenuhi kebutuhan eksistensinya. Selain aspek pragmatis maupun motif ekonomi. Gambaran Ilmuwan yang justeru tidak mau belajar yang benar dan egois. Gambaran mahluk yang keji, karena menyebarkan ilmu yang salah kepada orang lain. Saya yakin, gambaran ‘sakit’ psikologisnya akan konsisten ditampilkan dalam kehidupannya sehari-hari. Namun tertutupi dengan rasa superioritasnya sendiri. Bersyukur Kyai Dulpikir sempat bertobat diakhir hidupnya.
Bagaimana tokoh Roman, otak dari penyebaran paham-paham ini dengan berlandaskan motif ekonomi. Menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan, dengan menyamar sebagai mahasiswa di sebuah Institut Studi Lintas Agama, tempat Kemi. Ternyata dia sendiri seorang residivis, pemimpin satu kelompok penjahat kerah putih yang berulangkali berhasil membobol mesin ATM sejumlah bank. Ia berngalaman dalam dunia bisnis dan politik internasional. Ia tahu ada dana yang luar biasa besar untuk proyek-proyek liberalisasi di dunia Muslim. Dana itu hanya bisa dicairkan dengan merekrut santri-santri dan intelektual Muslim yang cerdas, yang digunakan sebagai ujung tombak proyek-proyek liberalisasi. Di sinilah otak bisnis Roman berjalan. Ia membangun jaringan yang luas di kalangan yayasan-yayasan asing, pemerintah, dan LSM-LSM lokal. Sejumlah alumni pesantren direkrutnya. Mereka diberi tugas membuat proposal, memberikan pelatihan, dan membuat laporan kepada LSM-LSM yang dikendalikan Roman. Kemi adalah salah satu santri yang menjadi korban skenario Roman. Ia terjebak dalam aktivitas liberalisasi dengan mendapatkan imbalan beasiswa kuliah gratis dan biaya hidup bulanan. Pikiran Kemi sudah terlanjur liberal. Ia terjerat oleh pikirannya sendiri. Ia terjerat oleh jerat-jerat liberal yang dipasang Roman.
Tiga macam tokoh ini rupanya berkolaborasi dan menguatkan. Satu sama lain akan melihat sebuah masalah dari aspek yang menguntungkan kepentingannya masing-masing. Sampai saya berpikir, mana bagian dari mereka yang harus diputus duluan rantainya, sehingga bisa menyelesaikan permasalahnnya. Walaupun akhrinya saya optimis, bahwa kebatilan mempunyai self destruction sendiri, tinggal kita tunggu saja kapan, sambil menguatkan diri ini dengan keilmuan dan amal yang nyata dalam kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Siti, seorang korban tambahan, karakter jiwa yang mewakili seorang wanita, dengan kecerdasannya dan kemanjaannya. Saya justeru melihat kemandirian yang ditampilkan Siti, adalah menutupi kemanjaannya dan ketidakmatangan emosinya. Beruntungnya, masih ada usaha untuk menggapai kembali hidayah-Nya. Sehingga hal ini menjadi momentum balik menjadikannya akhir yang cemerlang dalam sisi kebaikannya. Sambil berharap, semoga saudari-saudariku yang juga ‘terpeleset’ pada lingkaran setan plularisme, dapat kembali mendapatkan cahaya-Nya, dan berakhir seperti seperti gambaran tokoh ini.
Akhir kata, saya tutup makalah ini dengan sedikit ‘coretan kata’. Setelah saya baca novel ini untuk pertama kalinya, bulan maret 2011. Setelah itu, saya menulis di sebuah catatan yang disebar dijejaring sosial tentang kesan saya terhadap nilai-nilai yang terinternalisasi dari novel ini.
Cerita Si Kotak
by Ani Khairani on Thursday, March 24, 2011 at 4:16pm
Seorang teman berkata: "aku tak ingin hidup dalam kotak",
Tak sadarkah, ia pun sedang membangun kotaknya sendiri...
Seorang teman merasa bijaksana, dia berkata: "Aku dapat melihat dan merasa pada semua kotak2 yang ada, karena aku bukan didalam salah satu kotaknya"
Tak sadarkah, bahwa ia hanya duduk dikotaknya sendiri, yang tak dapat melampaui Sang pencipta kotak yang duduk paling tinggi...
Kotak....kotak...
yang dirindu yang dibenci... ditinggalkan dan diganti2, bahkan dijual dan dilempari, seperti barang yang tak berarti...
Marilah, Hiduplah dikotakmu, pelajari setiap sisinya, perindah setiap ruangnya... Syukurilah dan bersabarlah didalamnya...
Hati-hati tentu, pada mata yang selalu melihatmu dengan ngeri, dengan iri, dengan dengki, diantara kotak-kotak yang mengeliingi... pertahankanlah kotakmu jangan sampai diambil oleh yang bukan hak-nya...
Berbahagialah, karena kotakmu betul2 datang dari Sang Maha Pencipta Kotak... bukan diberi dari pemilik kotak2 yang lain, atau bukan hasil curian, atau bukan hasil penjualan yang merugi, atau bukan yang diganti2...
Jika memang kotakmu telah kandas... bahkan dicuri, ataupun hancur tak bertepi... Ingat Sang Maha Pengampun, Maha Penggenggam Jiwa setiap Kotak..... Berserahlah pada-Nya... Karena RahmatNya lebih Luas melebihi Ampunan-Nya...
(*terinspirasi cerita SiKEMI)
Tujuan Pendidikan
Oleh: Ani Khairani, M. Psi, Psikolog.
@Desember 2011
Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan tujuannya bertahap dan bertingkat pula.
Dalam Literatur barat Tujuan pendidikan di gambarkan sebagai berikut :
The Aim of Education : Filosofi
Goals : Tujuan pendidikan pada tingkat bangsa, separuh filosofi separuh ilmu
Objectives : Tujuan yang bisa diukur (Operasional Measurable)
Target : Tujuan antara
Di negara Indonesia terdapat kecacatan dari tujuan pendidikan, sebab yang mereka harapkan dari tujuan itu menjadi manusia yang berjiwa Pancasila. Memang bukan pekerjaan yang sangat mudah, mungkin saja seseorang tidak mampu mengungkapkan kriteria manusia yang terbaik itu, ada saja pandangan yang berbeda seperti apabila pandangnannya berupa agama. Maka yang dikatakan tujuan terbaik itu merupakan pandangan agama, begitupun sebaliknya dengan pandangan filsafat, yang dikatakan pendidikan yang terbaik adalah yang berorientasi kepada filsafat. Perbedaan itu dapat dipersempit tatkala negara sendiri yang menetapkan tujuan tersebut.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Untuk merumuskan tujuan pendidikan islam, harus diketahui terlebih dahulu ciri manusia sempurna menurut islam untuk mengetahui ciri manusia sempurna menurut islam maka harus diketahui terlebih dahulu hakikat manusia menurut islam.
Tujuan pendidikan adalah membantu manusia menjadi manusia (Proses), dalam arti menjadi manusia dewasa. Hal ini beruhubungan dengan konsep/pemahaman terhadap tujuan manusia diciptakan. Inti manusia adalah sesuatu yang Ilahiyah, mencapai Khalifatul Fil Ardl dalam arti menjadikan manusia sebagai wakil Tuhan yang memiliki sifat-sifat Tuhan sebagai Dzat yang dikhalifahi. Hal ini diimplementasikan dalam kurikulumnya, dengan penerapan Asmaul Husna. Sifat-sifat Tuhan yang tampil dalam perilaku manusia ini terlihat dan terasa oleh manusia yang lain,bukan dalam bentuk orang tersebut merasa sebagai Tuhan.Menggunakan format turunan tentang tujuan pendidikan, maka tujuan pendidikan Islam dapat dijabarkan sebagai berikut :
The Aim of Education : secara filosofi tujuan pendidikan Islam adalah mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua dimensi sekaligus yakni, sebagai Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Hal ini mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Tuhan pencipta alam.
Goals: Mencetak individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Hal ini merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah Saw Membentuk manusia menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik.
Objectives : Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat, Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat, Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Target : Pencapaian tujuan yang bersangkut paut langsung dengan proses pendidikan. Akhlaq yang tampil dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan dan pengamalan ibadah yang konsisten untuk menguatkan perilaku yang dapat terukur, untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)

